Sejarah Singkat

Tampilan Airside Gedung Terminal Bandar Udara Wunopito.jpg
Sejarah Singkat Bandar Udara

Bandar Udara Wunopito dibangun pada tahun 1977 oleh Pemerintah Daerah Flores Timur, saat Lembata masih menjadi bagian dari kabupaten tersebut. Pembangunan bandara ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara masyarakat dan mendorong pembangunan di berbagai sektor lainnya di Lembata. Nama "Wunopito" memiliki makna "Tujuh Bintang" atau "Tujuh Bukit" yang melambangkan tujuh kecamatan awal di Lembata. Ketujuh kecamatan tersebut adalah Buyasuri, Omesuri, Lebatukan, Ile Ape, Nubatukan, Atadei, dan Nagawutung.

Awalnya, Bandar Udara Wunopito dikelola oleh Pemda Flores Timur dari tahun 1977 hingga 1990. Kemudian, pada tahun 1991, pengelolaannya diserahkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Bandara ini juga pernah didarati oleh helikopter yang membawa Menteri Perhubungan RI Dr. Haryanto Dhanurtirto pada tahun 1994, serta pesawat TNI AL pada tahun 1998. Saat ini, Bandar Udara Wunopito yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan memiliki landasan pacu berukuran 1.200 x 30 meter dan menjadi gerbang udara utama yang melayani penerbangan di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.