Sejarah Singkat

Untitled-1.jpg

Bandar Udara Kolonel Robert Atty Bessing, yang berlokasi di
Jalan Raja Pandita Kec. Malinau Kota Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, berdiri sebagai saksi bisu perkembangan konektivitas dan pembangunan di wilayah pedalaman Kalimantan. Meskipun jejak sejarahnya tidak terdokumentasi secara detail dari awal pendirian, bandara ini telah melalui berbagai fase peningkatan yang signifikan, terutama sejak awal dekade 2000-an. Penamaan bandara ini diambil dari seorang tokoh penting, Kolonel R.A. Bessing. Meskipun informasi spesifik tentang sosok ini tidak banyak tersedia di ranah publik, penggunaan namanya menunjukkan pengakuan terhadap jasa atau perannya yang vital dalam sejarah lokal atau perjuangan di daerah tersebut. Bandara ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga sebagai simbol perjuangan daerah untuk keluar dari isolasi geografis, menghubungkan Malinau dengan pusat-pusat kota lain di Kalimantan dan Indonesia.

Sebelum tahun 2009, Bandar Udara Kol. Robert Atty Bessing beroperasi sebagai lapangan terbang perintis dengan fasilitas yang terbatas. Landasan pacunya memiliki dimensi yang relatif kecil, hanya mampu menampung pesawat-pesawat komersial kecil dan pesawat perintis. Bandara ini memiliki panjang landasan pacu sekitar 1.450 meter dengan lebar 30 meter. Kapasitas ini cukup untuk melayani pesawat jenis ATR 42 dan ATR 72, yang menjadi tulang punggung penerbangan komersial di kawasan ini. Fasilitas pendukung seperti taxiway dan apron juga berukuran terbatas, sejalan dengan statusnya sebagai bandara di wilayah pedalaman. Terminal penumpang, dengan luas sekitar 1.000 meter persegi, dirancang untuk melayani kebutuhan dasar penumpang tanpa fasilitas kargo yang signifikan. Operasionalnya kala itu lebih berfokus pada penerbangan domestik dan perintis, menjadi jalur vital bagi mobilitas warga dan distribusi logistik dasar.

Hingga saat ini, Bandar Udara Kol. Robert Atty Bessing telah mengalami peningkatan infrastruktur yang berkelanjutan. Salah satu peningkatan paling krusial adalah perluasan Gedung terminal dan fasilitas pendukung lainnya. Perluasan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pelayanan penerbangan dan memungkinkan pesawat dengan kapasitas yang lebih besar untuk mendarat dan lepas landas. Selain itu, perluasan ini juga meningkatkan potensi bandara untuk melayani lebih banyak rute dan maskapai. Gedung terminal diperluas hingga mencapai 3.000 meter persegi. Peningkatan ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk memajukan infrastruktur transportasi udara di Malinau, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Fasilitas yang lebih besar ini memungkinkan pelayanan penumpang yang lebih baik dan efisien.

Peran Bandar Udara Kol. Robert Atty Bessing sangat vital bagi Kabupaten Malinau yang memiliki topografi berbukit dan terpencil. Bandara ini tidak hanya menjadi gerbang utama untuk penerbangan komersial dari dan ke Balikpapan serta Samarinda, tetapi juga berperan sebagai hub utama untuk penerbangan perintis. Maskapai seperti Susi Air dan MAF (Mission Aviation Fellowship) secara rutin menggunakan bandara ini sebagai titik awal untuk melayani rute ke daerah-daerah terpencil di pedalaman Kalimantan, seperti Long Apung, Long Bawan, Mahak Baru, Long Sule dan Data Dian. Penerbangan perintis ini menjadi satu-satunya moda transportasi yang efisien dan aman untuk menghubungkan masyarakat di daerah-daerah tersebut dengan pusat pemerintahan dan ekonomi di Malinau. Oleh karena itu, bandara ini memiliki fungsi ganda: sebagai jalur komersial yang penting dan sebagai lifeline yang esensial bagi masyarakat pedalaman.

Saat ini, bandara ini dioperasikan bersama oleh Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) di bawah Kementerian Perhubungan dan Kantor Cabang Pembantu PERUM LPPNPI (AIRNAV) Malinau. Kolaborasi ini memastikan operasional bandara berjalan dengan standar keselamatan penerbangan yang tinggi. Dengan adanya peningkatan infrastruktur dan peran strategisnya, Bandar Udara Kol. Robert Atty Bessing terus menjadi motor penggerak pembangunan di Kabupaten Malinau. Peran bandara ini tidak hanya sebatas transportasi, tetapi juga sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, pertahanan, dan keamanan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, membuktikan bahwa sebuah bandara kecil dapat memiliki dampak yang sangat besar bagi kemajuan suatu daerah.
Terakhir diperbarui: 10 Jun 2026