Sejarah Singkat

Berdiri kokoh di atas tanah Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Bandar Udara Gebe merupakan perwujudan dari semangat menghubungkan cakrawala Nusantara. Sebagai salah satu infrastruktur vital di wilayah kepulauan, bandara ini memegang peran krusial dalam merangkai konektivitas, memangkas jarak, serta membawa nadi kemajuan bagi masyarakat lokal.

Dalam perjalanannya, dinamika pengelolaan Bandara Gebe terus berkembang demi meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pada masa-masa awal perkembangannya, bandara ini beroperasi di bawah naungan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Sultan Babullah Ternate. Seiring dengan penataan wilayah kerja dan strategi optimalisasi pelayanan transportasi udara di Maluku Utara, estafet pengelolaan Bandara Gebe kini dialihkan secara resmi di bawah manajemen UPBU Kelas III Buli-Maba. Hingga saat ini, dengan status sebagai Satuan Pelayanan (Satpel), Bandara Gebe terus berkomitmen penuh dalam menjaga standar keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan.

Secara geografis, Bandara Gebe dianugerahi letak yang sangat strategis. Berada di titik sentral antara Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Papua Barat Daya, bandara ini bertransformasi menjadi "jembatan udara" yang menghubungkan dua wilayah penting. Letak strategis ini menjadikan Bandara Gebe sebagai simpul transportasi yang tidak hanya membuka aksesibilitas wilayah kepulauan, tetapi juga menjadi roda penggerak utama sektor perekonomian, mobilitas sosial, dan penghubung logistik daerah.

Untuk mendukung mobilitas yang berkesinambungan, Bandara Gebe secara aktif melayani penerbangan perintis terjadwal yang dioperasikan oleh maskapai Susi Air. Menghubungkan dua rute utama, yaitu Gebe – Sorong dan Gebe – Ternate, layanan penerbangan ini mengudara secara berkala setiap hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Kehadiran penerbangan perintis ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menyediakan akses transportasi yang inklusif, andal, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.