Lewati ke konten utama

Sejarah Singkat

Awal 1950-an — Awal Karya Misi di Asmat

Pada awal tahun 1950-an, Pastor Zegwaard MSC memulai karya misi Katolik di wilayah Asmat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1958, hadir pula kelompok misionaris OSC dari Amerika. Seluruh aktivitas misi ketika itu bergantung pada transportasi air, mulai dari perahu dayung hingga perahu bermotor.

Secara administratif, Asmat masih menjadi bagian dari Keuskupan Merauke yang dipimpin Uskup Mgr. Herman Tillemans MSC.

1959 — Berdirinya AMA

AMA (Associated Mission Aviation), lembaga penerbangan misi Katolik, berdiri sejak tahun 1959. Kehadiran AMA menjadi bagian penting dalam perkembangan penerbangan misi di wilayah Asmat dan wilayah Papua lainnya.

1960 — Landasan Udara Pirimapun

Landasan udara lama di Pirimapun mulai beroperasi sejak tahun 1960. Namun, dari Agats menuju Pirimapun diperlukan waktu hingga dua belas jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Kondisi tersebut kemudian mendorong para misionaris untuk menyadari perlunya membangun sebuah landasan pacu yang lebih dekat dengan Agats sebagai pusat kegiatan misi, guna mendukung pelayanan dan mobilitas.

Screenshot 2026-09-06 023538.jpg
Proyek pembangunan landasan pacu Ewer. (Foto oleh Pater Gallus, OSC. 1964)

Screenshot 2026-09-06 024315.jpg
Proyek pembangunan landasan pacu. (Foto oleh Pater Gallus, OSC. 1964)

Screenshot 2026-09-06 031636.jpg
Proyek pembangungan landasan pacu, menimbun bagian sisi kiri dan kanan. Para perempuan menyiapkan tanah untuk menimbun kayu-kayu. (Foto oleh Pater Gallus, OSC. 1964)  

Screenshot 2026-09-06 024822.jpg
Pilot Bruder Tom Benoit, OSC berfoto bersama anak-anak di Bandara Ewer. 1964

Screenshot 2026-09-06 024732.jpg
Peta penerbangan yang dibuat oleh Pilot Bruder Tom Benoit, OCS. 1964. (New Guinea Letter No.21)

Awal 1960-an — Ewer Dipilih sebagai Lokasi Landasan

Ewer dipilih sebagai lokasi pembangunan landasan udara karena letaknya strategis, yaitu hanya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan perahu motor dari pusat kota Agats. Jarak tersebut jauh lebih dekat dibandingkan dengan Pirimapun.

Selain lokasinya yang lebih dekat, Ewer juga memiliki keunggulan dari kondisi tanah. Tanah liat yang padat dan kokoh hanya berada sekitar 90 cm di bawah lapisan lumpur lunak. Kondisi tersebut dianggap ideal untuk dijadikan dasar landasan pacu.

Tahap Persiapan — Pembukaan Hutan

Pada tahun sebelumnya, Br. Joseph De Louw OSC mengoordinasikan pembukaan hutan seluas 300 x 600 meter sebagai persiapan pembangunan landasan.

Penduduk setempat kemudian membawa tanah liat dari Sungai Pek dengan tangan mereka sendiri dan menimbunnya setinggi satu meter agar lebih tinggi dari permukaan air pasang.

Tahap Pembangunan — Sistem Pembagian Pekerjaan

Br. Joseph De Louw OSC membagi rencana landasan pacu menjadi seratus bagian, masing-masing sepanjang 5 meter. Setiap bagian dikerjakan dengan sistem kontrak.

Ia memperkirakan berapa hari kerja yang dibutuhkan untuk mengisi satu bagian, kemudian menetapkan upah harian yang layak. Kontrak hanya dibuat dengan satu orang, baik pria maupun wanita, yang bertanggung jawab atas bagian tersebut, termasuk mengatur jumlah asisten dan waktu pengerjaan.

Tahap Penguatan Landasan — Batang Bakau

Sementara itu, Pastor David Gallus OSC yang bertugas di Ewer memimpin pemeliharaan landasan pacu.

Ia kemudian berhasil meningkatkan kualitas landasan dengan melapisi seluruh landasan menggunakan “tikar” dari batang bakau sepanjang 4 meter yang disusun ala corduroy road. Setelah ditutup dengan tanah liat, lapisan tersebut membuat landasan cukup kuat untuk didarati pesawat berbobot lebih besar.

13 September 1964 — Pendaratan Pertama di Ewer

Landasan udara Ewer menjadi titik masuk penting bagi para misionaris OSC berikutnya ke Agats.

Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit. Ini adalah pendaratan pertama di Ewer.

Dalam suratnya kepada Pastor Provinsial OSC di Amerika, ia menuliskan:

“Saya lampirkan peta bersama surat ini agar Anda bisa memahami rute-rute penerbangan kami dan lokasi bandara yang ada. Landasan di Ewer adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Kali ini saya tidak mengalami masalah tenggelam. Pastor Miller bahkan sempat menancapkan tongkat besar sedalam satu meter untuk mengikat pesawat—begitu menembus kerak tanah, seolah tidak ada dasarnya. Landasan itu panjangnya 500 meter dengan lebar 8 meter. Sejauh ini, landasan ini telah membuktikan nilainya. Ada wacana untuk memperkerasnya dengan kayu ulin, tetapi hal itu masih sekadar rencana.”

Terakhir diperbarui: 06 Sep 2026