Tentang Bandara
Terakhir diperbarui: 01 Sep 2026
Sejarah Singkat
Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong (Deo airport) (IATA : SOQ, ICAO : WASS), adalah bandar udara yang berada Di Kota Sorong, Papua barat daya, Indonesia.
Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong merupakan salah satu bandar udara yang terletak di Provinsi Papua Barat Daya dengan koordinat 00053’39’’S (53 menit lintang selatan) dan 131017’20’’E (131 derajat 17 menit bujur timur), Elevasi 10 ft/ 3m. Jika dibandingkan dengan bandar udara lainnya di Provinsi Papua Barat Daya, Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong memiliki luas pada fasilitas sisi udara meliputi Runway 2500m x 45m (112.500m2), Taxiway 177m x 23m (4.071 m2), Apron 550m x 131m (72.050m2) dan fasilitas sisi darat meliputi Gedung Terminal 13.425m2, Gudang Kargo seluas 600m2.
Dengan panjang 2.500 meter dan lebar 45 meter, landasan pacu bandara ini bisa di darati pesawat seperti Boeing 737 series dan Airbus A320. Pergerakan pesawat di salah satu bandara tersibuk dan terbesar di semenanjung kepala burung ini mengalami pertumbuhan rata-rata 3,3% setiap tahunnya. Tercatat, ada lebih dari 9.000 pergerakan pesawat per tahun. Dari sisi penumpang, pertumbuhan penumpang tahunan rata-rata mencapai 13,2% dimana pada tahun 2014 ada sekitar 500.000 lebih penumpang. Untuk kargo, rata-rata pertumbuhan kargo per tahun cukup pesat yaitu sekitar 17,2%.
Kilas balik lahirnya Bandara Domine Eduard Osok Sorong
A. Bandara Jeffman
Bandara Jeffman berada di Distrik Salawati Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya. Terletak di gugusan Kepulauan Raja Ampat tepatnya di desa Jeffman, distrik Samate Kabupaten Sorong yang berjarak kurang lebih 10 mil laut sehingga dibutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit untuk sampai di Sorong.
Bandara Jeffman yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1887 digunakan sebagai landasan pesawat udara untuk mengangkut hasil eksplorasi emas dan minyak bumi di Klamano. Pada tahun 1930, bandara tersebut digunakan oleh perusahaan NNGPM (Netherlandsche Nieuw Guiniea Petroleum Maatschappij) Kemudian, pada 1949 Bandara Jefman di ambil alih oleh Jepang. Sejak Papua Barat resmi tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selanjutnya, landasan Bandara Jefman kemudian diperpanjang dari 600 meter menjadi 1.800 meter. Sejak saat itu, bandara peninggalan Belanda itu di operasikan oleh Kementerian Perhubungan, selama bertahun tahun hingga pada tahun 2004 bandara Jeffman tidak lagi beroperasi, karena keberadaannya digantikan oleh bandara Domine Eduard Osok Sorong.
Bandara Domine Eduard Osok Sorong diresmikan penggunaannya oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan pada 30 April Tahun 2016. Dimana sebelumnya, sejak pengoperasian Bandara Mainland/ Sorong Daratan, menggantikan bandara Jeffman – Sorong pada tahun 2005, maka sejak itu pula pengembangannya dilakukan secara terus menerus hingga tahun 2011 sampai dengan selesai seluruhnya pada tahun 2016. Meliputi pembangunan gedung terminal dua lantai dengan konsep buah pinang, dengan berbagai fasilitas modern yang diharapkan mampu memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi pengguna transportasi udara Dilengkapi fasilitas sarana dan prasarana yang memadai untuk dapat di operasionalkan selama 24 jam dengan dukungan kemudahan jangkauan layanan akomodasi dan moda transportasi lainnya.

Sebagai Bandara pengumpan Bandara DEO hadir untuk melayani penerbangan berjadwal domestik yang dioperasikan oleh maskapai. Selain itu Bandara DEO Sorong juga melayani Penerbangan Perintis yang dioperasikan oleh maskapai Susi Air ke beberapa daerah. Dengan panjang Landasan 2.500 meter dan Lebar 45 meter, landasan pacu Bandara DEO Sorong dapat didarati pesawat jenis Boing seri 737. Ketersediaan Lahan bandara DEO diperuntukkan untuk menunjang pembangunan city airport yang mana dengan produktivitas UPBU Kelas I DEO Sorong ditandai dengan hasil rekapitulasi lalu lintas angkutan udara bandar udara pada Tahun 2016 s/d tahun 2021 sampai dengan sekarang.
Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong merupakan salah satu bandar udara yang terletak di Provinsi Papua Barat Daya dengan koordinat 00053’39’’S (53 menit lintang selatan) dan 131017’20’’E (131 derajat 17 menit bujur timur), Elevasi 10 ft/ 3m. Jika dibandingkan dengan bandar udara lainnya di Provinsi Papua Barat Daya, Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong memiliki luas pada fasilitas sisi udara meliputi Runway 2500m x 45m (112.500m2), Taxiway 177m x 23m (4.071 m2), Apron 550m x 131m (72.050m2) dan fasilitas sisi darat meliputi Gedung Terminal 13.425m2, Gudang Kargo seluas 600m2.
Dengan panjang 2.500 meter dan lebar 45 meter, landasan pacu bandara ini bisa di darati pesawat seperti Boeing 737 series dan Airbus A320. Pergerakan pesawat di salah satu bandara tersibuk dan terbesar di semenanjung kepala burung ini mengalami pertumbuhan rata-rata 3,3% setiap tahunnya. Tercatat, ada lebih dari 9.000 pergerakan pesawat per tahun. Dari sisi penumpang, pertumbuhan penumpang tahunan rata-rata mencapai 13,2% dimana pada tahun 2014 ada sekitar 500.000 lebih penumpang. Untuk kargo, rata-rata pertumbuhan kargo per tahun cukup pesat yaitu sekitar 17,2%.
Kilas balik lahirnya Bandara Domine Eduard Osok Sorong
A. Bandara Jeffman
Bandara Jeffman berada di Distrik Salawati Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya. Terletak di gugusan Kepulauan Raja Ampat tepatnya di desa Jeffman, distrik Samate Kabupaten Sorong yang berjarak kurang lebih 10 mil laut sehingga dibutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit untuk sampai di Sorong.
Bandara Jeffman yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1887 digunakan sebagai landasan pesawat udara untuk mengangkut hasil eksplorasi emas dan minyak bumi di Klamano. Pada tahun 1930, bandara tersebut digunakan oleh perusahaan NNGPM (Netherlandsche Nieuw Guiniea Petroleum Maatschappij) Kemudian, pada 1949 Bandara Jefman di ambil alih oleh Jepang. Sejak Papua Barat resmi tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selanjutnya, landasan Bandara Jefman kemudian diperpanjang dari 600 meter menjadi 1.800 meter. Sejak saat itu, bandara peninggalan Belanda itu di operasikan oleh Kementerian Perhubungan, selama bertahun tahun hingga pada tahun 2004 bandara Jeffman tidak lagi beroperasi, karena keberadaannya digantikan oleh bandara Domine Eduard Osok Sorong.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Perhubungan pada tahun 1982 atas Bandara Sorong Daratan, ditemui kesimpulan bahwa untuk bandara yang paling layak digunakan sebagai pelabuhan udara di Kabupaten Sorong kala itu adalah Bandara Sorong Daratan atau dikenal juga dengan sebutan Mainland/ Tanah Besar
B. Bandara Domine Eduard Osok Sorong
B. Bandara Domine Eduard Osok Sorong

Sebagai Bandara pengumpan Bandara DEO hadir untuk melayani penerbangan berjadwal domestik yang dioperasikan oleh maskapai. Selain itu Bandara DEO Sorong juga melayani Penerbangan Perintis yang dioperasikan oleh maskapai Susi Air ke beberapa daerah. Dengan panjang Landasan 2.500 meter dan Lebar 45 meter, landasan pacu Bandara DEO Sorong dapat didarati pesawat jenis Boing seri 737. Ketersediaan Lahan bandara DEO diperuntukkan untuk menunjang pembangunan city airport yang mana dengan produktivitas UPBU Kelas I DEO Sorong ditandai dengan hasil rekapitulasi lalu lintas angkutan udara bandar udara pada Tahun 2016 s/d tahun 2021 sampai dengan sekarang.
Pada tahun 2021 pesawat datang berjumlah 4.741 dengan total penumpang 327.184 pax. pesawat berangkat berjumlah 4.757 pesawat dan jumlah penumpang berangkat berjumlah 264.696 pax. kargo datang 2.577. 325 di tahun ini pada periode bulan januari s/d bulan juni mencapai 5.612 pesawat dengan jumlah pax 587.410 dengan kargo 3.145.539 dari data yang disampaikan kemudian terlihat telah terjadi kenaikan sebanyak 73%.
Terakhir diperbarui: 01 Sep 2026