Tentang Bandara
Sejarah Singkat
Sejarah Bandar Udara Toraja (Buntu Kunik)
Pembangunan Bandar Udara Toraja, yang kini dikenal dengan nama Bandar Udara Toraja (Buntu Kunik), merupakan tonggak penting dalam upaya pemerintah meningkatkan konektivitas antarwilayah, terutama di daerah pegunungan Sulawesi Selatan yang sebelumnya sulit dijangkau. Bandara ini terletak di Desa Buntu Kunik, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, sekitar 31 kilometer dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja.
Gagasan pembangunan bandara baru di Toraja telah muncul sejak lama, karena bandara sebelumnya Bandara Pongtiku di Kecamatan Rantetayo memiliki keterbatasan landasan pacu (runway) dan kondisi geografis yang dikelilingi perbukitan, sehingga tidak memungkinkan untuk dikembangkan menjadi bandara berstandar nasional. Selain itu, kondisi cuaca dan jarak pandang di area tersebut sering kali menghambat penerbangan. Oleh sebab itu, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat mulai mencari lokasi baru yang lebih strategis dan aman untuk pengembangan bandara.
Setelah melalui serangkaian studi kelayakan dan survei lapangan, lokasi di Buntu Kunik dipilih karena memiliki kontur tanah yang relatif datar untuk ukuran daerah pegunungan, serta memiliki jarak pandang yang cukup baik bagi aktivitas penerbangan. Nama “Buntu Kunik” sendiri diambil dari nama gunung kecil (buntu) di sekitar lokasi tersebut. Pembangunan bandara ini dimulai sekitar tahun 2015 dan menjadi proyek strategis nasional di bawah pengawasan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi topografi dan akses jalan yang cukup menantang. Landasan pacu (runway) bandara dibangun dengan panjang awal sekitar 1.700 meter, dan direncanakan untuk diperpanjang hingga 2.000 meter agar dapat melayani pesawat jenis ATR 72-600. Selain itu, fasilitas terminal penumpang, area parkir pesawat (apron), tower pengendali, serta jalan akses menuju bandara juga dibangun secara bertahap.
Bandara Toraja resmi diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada 18 Maret 2021, menandai babak baru konektivitas udara di kawasan utara Sulawesi Selatan. Dalam peresmian tersebut, Presiden menegaskan bahwa keberadaan bandara ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam pemerataan pembangunan infrastruktur hingga ke daerah terpencil. Sejak saat itu, Bandara Toraja menjadi simbol kemajuan wilayah pegunungan dan harapan baru bagi peningkatan sektor pariwisata, ekonomi, dan sosial masyarakat Toraja.
Dengan dibukanya bandara ini, waktu tempuh dari Makassar ke Tana Toraja yang sebelumnya memakan waktu 8–10 jam perjalanan darat, kini dapat ditempuh hanya dalam 45 menit penerbangan. Maskapai seperti Wings Air dan Citilink menjadi operator pertama yang melayani rute Makassar–Toraja pulang-pergi secara rutin.
Selain fungsinya sebagai sarana transportasi, Bandara Toraja juga menjadi pintu gerbang utama menuju berbagai destinasi wisata unggulan di Tana Toraja, seperti Londa, Kete Kesu, Lemo, dan Ollon. Kehadiran bandara ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah serta mendukung visi pemerintah untuk menjadikan Tana Toraja sebagai salah satu destinasi wisata internasional unggulan di Indonesia Timur.
Secara keseluruhan, Bandar Udara Toraja (Buntu Kunik) bukan hanya infrastruktur transportasi, tetapi juga simbol kemajuan, harapan, dan kebanggaan masyarakat Toraja. Pembangunannya mencerminkan semangat gotong royong antara pemerintah pusat dan daerah untuk membuka keterisolasian wilayah, memperkuat pariwisata, serta memajukan kesejahteraan masyarakat setempat.