Sejarah Singkat

Bandar Udara Rembele yang terletak di Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, memiliki peran yang sangat penting sebagai urat nadi transportasi dan pertumbuhan ekonomi di dataran tinggi Gayo.

Berikut adalah linimasa sejarah dan perkembangan Bandara Rembele:

Sejarah Perkembangan Bandara Rembele

Ide Awal & Penggagas
Akhir 1990-an

Saat wilayah Bener Meriah masih menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Tengah, pimpinan daerah setempat (Bupati Mustafa M. Tamy dan Sekda Nasaruddin) menggagas pembangunan bandara. Tujuan utamanya bukan sekadar untuk penumpang, melainkan sebagai jalur penerbangan kargo demi mengekspor hasil bumi unggulan Gayo—seperti kopi, sayuran, dan buah-buahan—secara cepat ke luar daerah hingga ke luar negeri (seperti Singapura dan Malaysia).

Mulai Dibangun
Tahun 2000

Proses konstruksi fisik dan pembangunan awal landasan pacu serta fasilitas dasar bandara resmi dimulai untuk membuka akses wilayah tengah Aceh yang terisolasi secara geografis.

Selesai & Mulai Beroperasi
Tahun 2003 - 2004

Pembangunan tahap awal selesai pada tahun 2003. Pada tahun 2004, Bandara Rembele resmi beroperasi dengan melayani penerbangan Angkutan Udara Perintis menggunakan pesawat-pesawat berukuran kecil.

Modernisasi & Perluasan
Tahun 2014 - 2015

Kementerian Perhubungan melakukan perombakan besar-besaran. Landasan pacu (runway) yang semula hanya 1.400 meter diperpanjang menjadi 2.250 meter dengan lebar 30 meter agar bisa didarati pesawat yang lebih besar seperti ATR 72. Terminal penumpang juga diperluas dari 400 m² menjadi 1.000 m².

Peresmian oleh Presiden Jokowi
2 Maret 2016

Presiden Joko Widodo meresmikan langsung perluasan Bandara Rembele. Momen ini emosional karena Presiden Jokowi pernah tinggal dan bekerja di dataran tinggi Gayo pada era 1980-an. Bahkan, wilayah rumah/kantor tempat beliau dulu tinggal ikut tergerus demi proyek perluasan landasan pacu bandara ini.

Fakta Menarik & Kondisi Saat Ini

  • Penamaan "Rembele Takengon": Meskipun secara administratif saat ini berada di Kabupaten Bener Meriah (setelah pemekaran dari Aceh Tengah), nama komersial penerbangan sering kali tetap mengaitkannya dengan Takengon. Hal ini sengaja dipertahankan sebagai perekat sosiologis dan historis masyarakat Gayo di kedua wilayah tersebut.

  • Konektivitas: Setelah perluasan, bandara ini mampu melayani pesawat komersial berkapasitas sekitar 72 penumpang (seperti maskapai Wings Air ATR 72-600) untuk rute menuju Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, serta penerbangan perintis (seperti Susi Air)