Sejarah Singkat

Kisah Bandara Nanga Pinoh

Di jantung Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, berdiri sebuah bandara kecil yang penuh arti bagi masyarakatnya: Bandara Nanga Pinoh. Bandara ini mulai dibangun untuk menjawab kebutuhan akses transportasi udara masyarakat Melawi yang kala itu masih sangat bergantung pada jalur darat dan sungai. Dengan kondisi geografis Kalimantan yang luas, perjalanan darat bisa memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Karena itulah, pemerintah menghadirkan bandara ini sebagai pintu gerbang udara menuju Nanga Pinoh.

Bandara Nanga Pinoh resmi beroperasi sebagai bandara kelas III, di bawah pengelolaan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Pada awalnya, bandara ini melayani penerbangan perintis dengan pesawat kecil seperti Cessna Caravan, yang menjadi penghubung utama Nanga Pinoh dengan Pontianak dan beberapa kota lain di Kalimantan. Kehadirannya membawa harapan: mempersingkat waktu perjalanan, memudahkan mobilitas masyarakat, hingga mendukung distribusi barang dan logistik.

Namun, seiring waktu, tantangan mulai muncul. Jumlah penumpang yang fluktuatif, biaya operasional yang tinggi, serta terbatasnya panjang landasan membuat jadwal penerbangan reguler sempat berhenti sekitar tahun 2019. Meski begitu, bandara ini tidak benar-benar sepi: ia masih melayani aktivitas penerbangan non-reguler, darurat medis, hingga menjadi fasilitas penting untuk misi sosial dan pemerintahan.


Timeline Perkembangan Bandara Nanga Pinoh

Muncul gagasan pembangunan bandara di Kabupaten Melawi untuk membuka akses udara. Kondisi geografis Kalimantan yang luas dan sulitnya jalur darat membuat transportasi udara dianggap penting.

Pembangunan landasan pacu dimulai secara bertahap. Landasan awal berupa pacu tanah yang diperkeras, lalu dikembangkan menjadi aspal. Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan memberikan dukungan anggaran.

Bandara mulai beroperasi melayani penerbangan perintis. Maskapai kecil dengan pesawat tipe Cessna Caravan menjadi andalan, menghubungkan Nanga Pinoh dengan Pontianak dan beberapa kota kecil lainnya.

Periode ini menjadi masa cukup aktif. Bandara ramai digunakan oleh masyarakat Melawi, terutama untuk perjalanan cepat ke Pontianak. Selain itu, bandara sering dipakai untuk penerbangan evakuasi medis dan logistik daerah.

Peningkatan fasilitas dilakukan, termasuk perkerasan ulang runway, penambahan fasilitas terminal sederhana, dan peningkatan pelayanan navigasi. Panjang landasan pacu mencapai ±1.200–1.300 meter dengan lebar 30 meter.

Jadwal penerbangan reguler berhenti sementara karena keterbatasan jumlah penumpang dan faktor operasional. Bandara tetap digunakan untuk penerbangan non-reguler, pemerintahan, hingga kedaruratan.

Pandemi COVID-19 semakin membatasi aktivitas bandara. Meskipun demikian, fungsinya untuk misi sosial, evakuasi, dan mobilitas pemerintah tetap berjalan.

Pemerintah daerah Melawi bersama UPBU Nanga Pinoh mengusulkan kembali dibukanya rute penerbangan perintis Pontianak – Nanga Pinoh. Diskusi dan koordinasi dilakukan untuk mencari maskapai yang bersedia beroperasi.

Bandara masih dalam status operasional, dengan fasilitas dasar yang siap digunakan. Walau belum ada penerbangan reguler aktif, masyarakat dan pemerintah berharap bandara ini segera kembali melayani rute rutin, karena perannya sangat vital bagi akses ekonomi dan sosial Melawi.


Harapan ke Depan

Kini, pemerintah daerah bersama pengelola bandara berupaya membuka kembali rute penerbangan reguler. Dengan panjang runway sekitar 1.200 meter, bandara ini memang terbatas untuk pesawat kecil-menengah, tetapi potensinya besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Melawi. Masyarakat pun menaruh harapan bahwa suatu hari nanti, Bandara Nanga Pinoh akan kembali ramai seperti dulu, menjadi simpul penting transportasi udara di pedalaman Kalimantan Barat.