Tentang Bandara
Sejarah Singkat
Perlu dicatat, sejarah Bandara Mopah bermula dari lapangan terbang era sebelum Perang Dunia II, kemudian berkembang menjadi pangkalan udara Sekutu, dan setelah itu bertransformasi menjadi bandar udara sipil yang melayani konektivitas Merauke dan wilayah Papua Selatan.
Sejarah Bandara Mopah Merauke
1930-an — Awal keberadaan lapangan terbang
Sebelum Perang Dunia II, kawasan yang kini menjadi Bandara Mopah telah memiliki sebuah lapangan terbang yang dibangun oleh pemerintah Belanda. Saat itu landasannya masih berupa permukaan tanah. Pada September 1939, lapangan terbang Merauke tercatat dalam sejarah ketika sebuah pesawat Junkers F.13 diterbangkan dari Malahang menuju Merauke. Peristiwa ini menunjukkan bahwa lapangan terbang tersebut telah digunakan sebelum berkembang menjadi pangkalan udara pada masa perang.
1942 — Merauke menjadi wilayah strategis
Di tengah Perang Dunia II, posisi Merauke menjadi penting bagi pertahanan Sekutu di kawasan Papua. Karena letaknya strategis, pembangunan dan pengembangan lapangan terbang di Merauke mulai mendapat perhatian militer Sekutu.
1943 — Tonggak penting lahirnya Bandara Mopah
Pada 28 Juni 1943, pembangunan landasan udara dilakukan oleh 55th Naval Construction Battalion (Seabees). Landasan kemudian diperkuat dan digunakan sebagai pangkalan udara Sekutu. Pesawat Royal Australian Air Force (RAAF), termasuk P-40 Kittyhawk dan Vultee Vengeance, beroperasi dari Merauke. Tahun 1943 inilah yang menjadi tonggak penting dalam sejarah terbentuknya Bandara Mopah. Lapangan terbang Merauke semakin aktif sebagai pangkalan operasi udara. Skuadron RAAF melakukan misi pengintaian dan operasi udara dari Merauke dalam rangka mendukung pertahanan wilayah Papua selama Perang Dunia II.
1945 — Beralih dari pangkalan militer
Setelah Jepang menyerah dan Perang Dunia II berakhir, pasukan Sekutu meninggalkan lapangan terbang. Pengelolaannya kemudian beralih kepada pemerintahan Hindia Belanda dan selanjutnya dikelola oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
1949 — Memasuki masa pemerintahan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, Papua bagian barat saat itu masih berada di bawah pemerintahan Belanda. Lapangan terbang Merauke tetap digunakan untuk mendukung mobilitas udara di wilayah tersebut hingga proses pengalihan administrasi kepada Indonesia.
1962–1965 — Masa peralihan administrasi
Dalam proses peralihan pemerintahan Papua kepada Indonesia melalui UNTEA, pengelolaan bandar udara mengalami masa transisi. Pada 1963, pengelolaan Bandara Mopah mulai memasuki era pemerintahan Indonesia. Pada periode ini terjadi pergantian dan penyesuaian kepemimpinan pengelolaan Bandara Mopah. Bandar udara mulai berkembang tidak hanya sebagai fasilitas penerbangan, tetapi juga sebagai bagian penting dari pelayanan transportasi udara masyarakat Merauke.
1978 — Pengelolaan terus berkembang
Bandara Mopah terus mengalami perkembangan organisasi dan pelayanan. Pengelolaan bandar udara semakin diarahkan untuk mendukung kebutuhan transportasi udara masyarakat dan pembangunan wilayah Merauke.
1984 — Perubahan nomenklatur menjadi Pelud Mopah Merauke
Setelah restrukturisasi organisasi, nama Bandar Udara Mopah berubah menjadi Pelabuhan Udara (Pelud) Mopah Merauke.
1987 — Kembali menggunakan nama Bandar Udara
Pada masa kepemimpinan P.L. Toman, BSc, nomenklatur Pelud kembali berubah menjadi Bandar Udara Mopah.
1990-an — Penguatan pelayanan penerbangan
Bandara Mopah terus berkembang sebagai salah satu simpul transportasi udara penting di kawasan timur Indonesia. Penerbangan dari Merauke menghubungkan masyarakat dengan berbagai kota di Papua maupun wilayah Indonesia lainnya.
2000-an — Mopah menjadi penghubung Papua Selatan
Memasuki era 2000-an, peran Bandara Mopah semakin penting sebagai pintu gerbang transportasi udara Merauke. Bandara tidak hanya melayani penerbangan komersial, tetapi juga menjadi titik penghubung menuju wilayah-wilayah pedalaman.
2016 — Pengembangan fasilitas dan kapasitas
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melakukan pengembangan fasilitas Bandara Mopah untuk meningkatkan kapasitas, keselamatan, keamanan, dan kualitas pelayanan. Pada periode ini, Bandara Mopah telah mampu melayani pesawat Boeing 737 dan penerbangan menuju sejumlah kota besar di Indonesia.
2021 — Terminal baru resmi digunakan
Pada 3 Oktober 2021, Presiden Joko Widodo meresmikan terminal baru Bandara Mopah Merauke. Terminal baru memiliki luas sekitar 7.200 m² dengan kapasitas hingga 638.000 penumpang per tahun. Pembangunan ini menjadi salah satu tonggak penting modernisasi Bandara Mopah.
2025 — Semakin penting bagi konektivitas wilayah
Bandara Mopah terus dikembangkan sebagai bandara penghubung bagi Merauke dan wilayah sekitarnya, termasuk mendukung penerbangan perintis untuk membuka akses masyarakat di wilayah pedalaman dan 3TP. Profil resmi Kantor UPBU Kelas I Mopah menyebutkan fungsi tersebut sebagai bagian dari upaya meretas keterisolasian wilayah timur Indonesia.
2026 — Bandara Mopah sebagai simpul konektivitas Papua Selatan
Kini Bandara Mopah terus berkembang sebagai salah satu pintu gerbang udara utama Papua Selatan. Perannya tidak hanya sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan pesawat, tetapi juga sebagai penghubung orang, barang, jasa, ekonomi, dan masyarakat pedalaman Papua Selatan.