Tentang Bandara
Sejarah Singkat
Bandara Matahora (ICAO: WAWD, IATA: WNI) di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dibangun untuk menjawab kebutuhan akses transportasi udara yang aman dan andal. Sebelum ada bandara, Wakatobi hanya bisa ditempuh lewat laut dengan gelombang tinggi hingga 7 meter, yang menghambat mobilitas dan pariwisata.
Pembangunan dimulai pada 2007 dengan landasan 1.400 meter, dan diresmikan pada 22 Mei 2009 oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal melalui penerbangan perdana Susi Air rute Wakatobi–Kendari. Tahun-tahun berikutnya, landasan diperpanjang hingga 2.000 × 45 meter, apron dan terminal penumpang seluas 1.500 m² dibangun, serta fasilitas keselamatan dan navigasi ditingkatkan.
Sejumlah maskapai pernah beroperasi, mulai dari Susi Air, Express Air, Merpati, Wings Air, hingga Garuda Indonesia. Setelah pandemi 2020 menghentikan sementara penerbangan, subsidi pemerintah memungkinkan Wings Air kembali aktif pada 2022–2023. Pada Oktober 2024, Super Air Jet menjadi maskapai komersial narrow body pertama dengan Airbus A320 rute Makassar–Wakatobi.
Kini Bandara Matahora dikelola oleh UPBU Matahora di bawah Ditjen Perhubungan Udara. Keberadaan bandara ini bukan hanya membuka keterisolasian Wakatobi, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan pariwisata dan ekonomi. Sejak 2009 jumlah wisatawan melonjak dari 3.000 menjadi 17.000 orang pada 2015, menjadikan Wakatobi salah satu destinasi prioritas nasional dan “Bali Baru”.