Tentang Bandara
Sejarah Singkat
1. Awal keberadaan Bandara Lasondre
Bandar Udara Lasondre merupakan bandar udara yang melayani wilayah Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara . Saat ini lokasi bandar udara tercatat berada di kawasan Pulau-Pulau Batu dan secara geografis berada di sekitar Pulau Tanah Masa . Dalam dokumen tata ruang Kabupaten Nias Selatan, Lasondre ditetapkan sebagai bandar udara pengumpan (feeder) yang berada di Kecamatan Tanah Masa.
Jejak keberadaan Bandara Lasondre dapat diketahui setidaknya hingga sebelum tahun 2007 . Pemberitaan detikNews pada 28 Maret 2007 menyebut bahwa pada saat itu sudah terdapat Bandara Lasondre di wilayah Pulau Tello, Nias Selatan, dengan panjang landasan sekitar 1.100 meter . Pada periode tersebut, pemerintah sedang melakukan program rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur transportasi di Kepulauan Nias pascagempa.
Dokumen BRR Perwakilan Nias juga mencatat bahwa pada tahun 2007 pemerintah melakukan perbaikan terhadap Bandara Lasondre di Pulau Tello , bersamaan dengan pengembangan Bandara Binaka di Gunungsitoli. BRR menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi tersebut ditujukan untuk memperkuat konektivitas Nias dengan Pulau Sumatera serta antarpusat pertumbuhan ekonomi di wilayah kepulauan.
2. Perkembangan setelah gempa Nias
Pengembangan Bandara Lasondre tidak dapat dipisahkan dari program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa Nias . Infrastruktur transportasi menjadi salah satu prioritas karena kondisi kepulauan membuat mobilitas masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut dan udara.
Pada tahun 2006–2007 terdapat pekerjaan yang berkaitan dengan perluasan Bandara Lasondre dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi transportasi udara. Dokumen program BRR mencatat pekerjaan Perpanjangan Bandara Lasondri sebagai salah satu proyek rehabilitasi/rekonstruksi transportasi udara.
Dengan demikian, pembangunan Lasondre pada periode tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas baru, tetapi merupakan bagian dari upaya meningkatkan konektivitas wilayah Kepulauan Batu setelah bencana.
3. Mulai tercatat sebagai fasilitas transportasi udara daerah
Keberadaan Lasondre kemudian tercatat secara jelas dalam statistik pemerintah daerah. Nias Selatan Dalam Angka 2010 sudah memiliki tabel khusus mengenai jumlah kunjungan pesawat, jumlah penumpang, serta barang yang diangkut melalui Bandara Lasondre pada tahun 2009. Artinya, pada 2009 Lasondre telah menjadi fasilitas transportasi udara yang digunakan untuk kegiatan penerbangan dan tercatat dalam statistik resmi daerah.
Dalam laporan kehidupan lingkungan Kabupaten Nias Selatan tahun 2009, Lasondre juga tercatat sebagai Pelabuhan Udara Lasondre PP. Batu , berstatus domestik , dengan luas kawasan sekitar 30 hektar .
4. Lasondre sebagai bandar udara pengumpan
Pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional , Lasondre terdaftar sebagai bandar udara domestik dengan hierarki pengumpan di wilayah Pulau-Pulau Batu, Sumatera Utara.
Status sebagai bandar udara pengumpan memiliki arti penting. Lasondre tidak dirancang sebagai bandar udara utama seperti Kualanamu, tetapi sebagai penghubung wilayah kepulauan dengan jaringan transportasi udara yang lebih besar.
Konsep ini kemudian diperkuat dalam RTRW Kabupaten Nias Selatan 2014–2034 , yang menetapkan Lasondre sebagai bandar udara pengumpan dan merencanakan jaringan penerbangan yang menghubungkan Lasondre dengan beberapa bandar udara, antara lain Binaka, Silambo, Kualanamu, Padang, Silangit, Aek Godang, Rokot, dan Soekarno-Hatta
5. Perkembangan operasional dan pelayanan masyarakat
Data BPS menunjukkan bahwa Lasondre telah digunakan secara aktif sebagai pintu masuk dan keluar masyarakat Kepulauan Batu.
Sebagai contoh, pada tahun 2011 tercatat 276 penerbangan datang dan 276 penerbangan berangkat , atau 552 pergerakan pesawat dalam satu tahun. Pada tahun yang sama tercatat lebih dari 5.700 penumpang datang dan berangkat .
Data tersebut menunjukkan bahwa pada awal dekade 2010-an, Lasondre telah memiliki fungsi penting dalam menyediakan konektivitas udara bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan.
Bandara ini juga memiliki kaitan dengan kegiatan pariwisata Kepulauan Batu. Pada pertengahan tahun 2000-an, kawasan Kepulauan Batu mulai dikenal sebagai tujuan wisata bahari, terutama untuk selancar, memancing, dan menyelam . Salah satu sumber mencatat bahwa wisatawan menuju resor di kawasan tersebut dapat menggunakan penerbangan charter menuju Bandara Lasondre.
6. Peningkatan fasilitas dan runway
Seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan, sisi udara Lasondre terus dikembangkan.
Data teknis pada periode 2012–2014 menunjukkan bahwa Lasondre telah memiliki runway sekitar 1.400×30 meter , apron sekitar 60×40 meter , serta fasilitas terminal penumpang domestik. Pada periode tersebut Lasondre juga masih dikategorikan sebagai bandar udara tanpa pengawasan , dengan fasilitas navigasi seperti NDB.
Perkembangan landasan pacu dari sekitar 1.100 meter pada tahun 2007 menjadi sekitar 1.400 meter pada periode berikutnya merupakan salah satu perkembangan penting dalam sejarah bandar udara ini. Namun, sumber yang saya temukan belum memberikan tanggal tunggal yang dapat dipastikan sebagai tanggal selesainya perpanjangan tersebut.
7. Peningkatan besar pada tahun 2016
Salah satu fase penting dalam sejarah Lasondre terjadi pada tahun 2016 , ketika pemerintah melalui UPBU Lasondre melaksanakan pekerjaan peningkatan fasilitas sisi udara.
Pekerjaan tersebut meliputi:
- Peningkatan Nomor Klasifikasi Perkerasan (PCN) landasan pacu ;
- peningkatan landasan pacu taksi ;
- peningkatan celemek ;
- pelapisan menggunakan AC-Hotmix ;
- penandaan pekerjaan;
- penyempurnaan landasan pacu;
- pembangunan/perbaikan jalan inspeksi; dan
- pembangunan saluran terbuka.
Dokumen perkara mencakup mencatat volume pekerjaan perbaikan runway, taxiway, dan apron sekitar 45.608 m² , dengan anggaran sekitar Rp27 miliar dari APBN Kementerian Perhubungan.
Proyek tersebut kemudian mengalami permasalahan hukum. Berdasarkan hasil penyidikan dan pemberitaan perkara, terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan proyek sehingga menimbulkan kerugian negara. Kasus tersebut kemudian berlanjut ke proses hukum dan menghasilkan keputusan terhadap pihak yang terlibat.
Peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah pengembangan infrastruktur Bandara Lasondre, namun tidak berarti operasional bandaranya berhenti secara permanen .
8. Status Lasondre sebagai UPBU
Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 8 Tahun 2018 , Lasondre terdaftar sebagai Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III di Provinsi Sumatera Utara.
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan Lasondre berada dalam struktur penyelenggaraan bandar udara pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
9. Peran Lasondre dalam jaringan penerbangan perintis
Karakter geografis Kepulauan Batu menyebabkan transportasi udara memiliki peran strategis. Oleh karena itu, Lasondre kemudian masuk dalam jaringan angkutan udara perintis .
Dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 158 Tahun 2023 tentang tarif penumpang angkutan udara perintis tahun 2024 , terdapat rute yang menghubungkan Lasondre dengan Binaka/Gunungsitoli , serta rute Lasondre dengan bandar udara lain seperti Minangkabau .
Untuk tahun 2026 , Kementerian Perhubungan kembali mencantumkan rute Binaka–Lasondre dalam jaringan angkutan udara perintis dengan tarif yang ditetapkan pemerintah.
Dengan adanya penerbangan perintis, fungsi Lasondre tidak hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga sebagai sarana pemerataan akses transportasi bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang relatif terpencil .
10. Kondisi Lasondre saat ini
Berdasarkan data resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan , saat ini Bandara Lasondre memiliki:
| Data | Kondisi saat ini |
|---|---|
| Nama | Bandar Udara Lasondre |
| ICAO | WIMO |
| IATA | LXD |
| Penggunaan | Domestik |
| Status | Bandar udara umum |
| Hierarki | Pengumpan |
| Klasifikasi | 3C |
| Pengelola | UPBU Lasondre / Ditjen Perhubungan Udara |
| Lokasi | Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan |
| Landasan pacu | 1.400 × 30 m |
| Arah landasan pacu | 24/06 |
| Fitur | Aspal |
| Koordinat ARP | 00°01'07.95" LS, 098°18'01.99" BT |
Data resmi Ditjen Hubud yang diperbarui Juli 2026 mencatat runway Lasondre sepanjang 1.400 meter dan lebar 30 meter , dengan jarak yang dinyatakan TORA 1.400 m, TODA 1.460 m, ASDA 1.400 m, dan LDA 1.400 m.