Sejarah Singkat

Kokonao sebagai "Kota Tua" dan Pusat Peradaban

Melihat jauh kebelakang sebelum adanya hiruk-pikuk pertambangan modern, Kokonao dikenal ramai. Bermula pada 27 Mei 1928, ketika misionaris Belanda (Pastor J. Aerts dan Pastor F. Kowatzki) tiba di kawasan ini. Mereka datang tidak hanya membawa misi agama, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah pertama di selatan Papua.
Saat itu, akses menuju pedalaman Papua sangatlah ekstrem. Transportasi utamanya mengandalkan kapal laut menyusuri pesisir atau pesawat air (floatplane) milik Belanda yang biasa mendarat di atas danau.

Mengapa Bandara di Kokonao dibangun?

469854169_592983023116838_7727168098391143967_n.jpg
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan mobilitas guru, tenaga medis, misionaris, dan pasokan logistik semakin mendesak. Hadirnya landasan pacu darat menjadi sebuah keharusan agar kota penting seperti Kokonao tidak terisolasi dan tetap terhubung dengan wilayah-wilayah lain yang mulai berkembang (termasuk Timika).
Munculnya Bandar Udara Kokonao yang terletak di Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dengan Koordinat 4°42’41,16” Lintang selatan dan 136°26’6,3” Bujur Timur Elevasi 5ft msl Menjadikan keberadaan Bandar Udara Kokonao sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat, dikarenakan tidak tersedianya sarana transportasi darat untuk akses menuju ke daerah tersebut, dari dan ke Timika yang merupakan kota terdekat. Selain itu kehadiran bandar udara kokonao juga bertujuan untuk meretas keterisolasian wilayah, khususnya di wilayah tertinggal di Indonesia.
Saat ini Bandar Udara Kokonao terus mengalami peningkatan sarana dan prasarana secara bertahap guna meningkatkan aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan penerbangan. Sebagai salahsatu bandar udara perintis di Papua Tengah, Bandar Udara Kokonao berkomitmen untuk mendukung pemerataan pembangunan, serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Indonesia khususnya bagian timur.
Terakhir diperbarui: 21 Jul 2026