Tentang Bandara
Terakhir diperbarui: 18 Mar 2026
Sejarah Singkat
Bandara Iskandar dahulunya bernama Lapangan Terbang Subah Uyah, bandara tersebut merupakan warisan/peninggalan pemerintah kolonial Jepang yang masih berupa tanah dipadatkan. Pada tahun 1947 Pangeran Muhammad Noor, yang saat itu menjabat gubernur kalimantan, mengajukan permintaan kepada AURI unuk membangun sebuah stasiun radio guna menyebarkan berita bahwa indonesia telah medeka sejak tahun 1945. Soerjadi Soerjadarma mengambil inisiatif mengirimkan ke 13 orang ke kalimantan, dua diantaranya adalah teknisi radio dari AURI, sedangkan 11 orang lainnya adalah putra Kalimantan. Kesebelas putra Kalimantan itu adalah Iskandar sebagai komandan pasukan, Ahmad Kosasih, Bachri,J Biak,C Williem, Imanuel, Amirudin, Ali Akbar, M Dahlan, JH Darius, dan Marawi. Pada tanggal 17 Oktober 1947 (yang kemudian menjadi hari Korpaskhas TNI-AU) dini hari. Pesawat lepas landas dari Maguwo, Djogjakarta menyebrangi laut Jawa dan belantara hutan rimba Kalimantan menuju Kotawaringin Barat,Tepatnya Di desa Sambi, Kalimantan Tengah sebagai daerah saaran penerjunan. menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002 (Monumen Palagan Sambi yang sampai saat ini masih tetap Utuh berdiri di sebelah bundaran pancasila) yg di awaki kapten pilot Bob Freeberg dengan kopilot Makmur Suhodo Sera dibantu jump master Amir Hamzah dan pemadu jalan mayor Tjilik Riwut bersama 13 pejuang prajurit penejun. Selepas mendarat dengan selamat, mereka menghadapi pasukan Belanda yang sedang melangsungkan agresi militer 1 yang pada saat itu berupaya merebut landasan udara Jepang yang telah berhasil diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Ke-13 orang tersebut tewas dan yg tersisa menjadi tawanan pihak Belanda. Untuk mengenang jasa para penerjun tersebut, maka nama komandan penerjun Iskandar diabadikan mejadi nama landasan tersebut.
Terakhir diperbarui: 18 Mar 2026