Sejarah Bandar Udara H. Asan Sampit
Bandar Udara H. Asan Sampit merupakan salah satu prasarana transportasi udara yang berperan penting dalam mendukung konektivitas dan mobilitas masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Perjalanan bandara ini berawal dari penerbangan perintis di Sungai Mentaya, dilanjutkan dengan pembangunan lapangan terbang melalui semangat gotong royong pemerintah dan masyarakat, hingga berkembang menjadi bandar udara yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Awal Penerbangan di Sungai Mentaya (1959–1960)
Kegiatan penerbangan di Sampit dimulai pada tahun 1959–1960 melalui layanan penerbangan rute Banjarmasin–Sampit pulang-pergi menggunakan pesawat Albatros (amfibi) milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), yang pada masa itu dikenal sebagai Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).
Pendaratan pesawat dilakukan di Sungai Mentaya, dengan lokasi berlabuh di dermaga milik Pemerintah Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur yang berada di depan Pendopo Kabupaten, kawasan yang kini menjadi bagian dari Pelabuhan Sampit.
Penerbangan tersebut merupakan bagian dari operasi bakti untuk mendukung misi pemerintah membuka akses menuju daerah-daerah yang masih terisolasi, khususnya di Kalimantan Tengah, melalui jembatan udara. Namun, keterbatasan jumlah armada menyebabkan layanan penerbangan tersebut tidak dapat dipertahankan dan akhirnya terhenti setelah berlangsung sekitar dua tahun.
Pembangunan Lapangan Terbang melalui Gotong Royong (1960)
Penghentian penerbangan mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengupayakan kembali tersedianya transportasi udara di Sampit. Sebelumnya, keberadaan penerbangan telah memberikan manfaat bagi masyarakat, antara lain dalam pelayanan angkutan penumpang serta pengiriman pos, majalah, dan surat kabar dari daerah lain.
Pada 31 Agustus 1960, Bapak H. Asan menyerahkan sebidang tanah berukuran 1.500 meter x 110 meter kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur untuk pembangunan lapangan terbang.
Pembangunan landasan dipelopori oleh pemerintah daerah bersama unsur Kodam pada masa itu, dengan melibatkan berbagai instansi, pelajar, dan masyarakat melalui semangat gotong royong. Landasan yang dibangun masih berupa landasan rumput, tetapi telah dapat digunakan oleh pesawat kecil jenis Otter dan Pilatus milik PT Merpati Nusantara Airlines untuk melayani rute Banjarmasin–Sampit pulang-pergi.
Nama H. Asan kemudian diabadikan sebagai nama bandar udara untuk mengenang jasa dan kontribusinya dalam penyediaan lahan bagi pembangunan lapangan terbang tersebut.
Meskipun penerbangan kembali beroperasi, keterbatasan armada menyebabkan layanan tersebut kembali terhenti selama beberapa tahun.
Pengoperasian Kembali dan Penerbangan Perintis (1970–1977)
Setelah beberapa tahun tidak digunakan, landasan rumput mengalami perubahan kondisi dan ditumbuhi semak belukar. Pada saat yang sama, PT Dirgantara Air Service (DAS), perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan carter dan taksi udara, merencanakan layanan penerbangan perintis di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Untuk mempersiapkan landasan, AURI/KODAU II menugaskan Koptu Abdul Hamid ke Sampit. Melalui pendekatan dan kerja sama dengan pemerintah daerah, landasan kembali dapat digunakan pada tahun 1970 oleh pesawat BN2A milik PT Dirgantara Air Service.
Pada awal pengoperasiannya, penerbangan dilaksanakan dua kali seminggu. Frekuensi tersebut meningkat hingga rata-rata 21 kali seminggu pada tahun 1977. Seiring dengan perkembangan layanan tersebut, status lapangan terbang ditingkatkan menjadi Lapangan Terbang Perintis H. Asan.
Pada periode ini, lapangan terbang dipimpin oleh Soeharsoyo sebagai Kepala Lapangan Terbang Perintis H. Asan berdasarkan Surat Kepala Kantor Wilayah III Surabaya Nomor SKEP.308/WL-III/VIII/77 tanggal 25 Agustus 1977.
Peningkatan Status dan Pengelolaan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (1983–1995)
Perkembangan frekuensi penerbangan dan kebutuhan pelayanan masyarakat mendorong peningkatan status Lapangan Terbang Perintis H. Asan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.68/HK.207/PHB-83 tanggal 19 Februari 1983 tentang Pembentukan Lapangan Terbang Perintis menjadi Pelabuhan Udara Kelas IV dan Kelas V, Lapangan Terbang Perintis H. Asan ditingkatkan menjadi Pelabuhan Udara Kelas V. Istilah “pelabuhan udara” kemudian digunakan sebagai “bandar udara”.
Pada tahun 1984, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah menyerahkan pengelolaan bandar udara kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui Kepala Kantor Wilayah III Surabaya. Mulai tahun anggaran 1984/1985, Pelabuhan Udara H. Asan memperoleh anggaran DIK dari pemerintah pusat.
Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 4 Tahun 1995, status Bandar Udara H. Asan ditingkatkan dari Kelas V menjadi Kelas III. Peningkatan tersebut juga diikuti dengan perubahan tingkat eselon jabatan kepala bandar udara dari Eselon V menjadi Eselon IVa.
Peningkatan status dan pengelolaan tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan lalu lintas angkutan udara. Berdasarkan data historis yang tercantum dalam dokumen sejarah bandara, perbandingan data tahun 1984 terhadap tahun 1974 menunjukkan perkembangan sebagai berikut:
-
Pergerakan pesawat: 7.288 kali, meningkat 882%.
-
Penumpang datang dan berangkat: 55.196 orang, dibandingkan 4.827 orang pada tahun 1974, meningkat 1.043%.
-
Barang bongkar muat: 65.797 kg, dibandingkan 13.482 kg pada tahun 1974, meningkat 388%.
-
Pos dan giro bongkar muat: 18.538 kg, dibandingkan 4.178 kg pada tahun 1976, meningkat 344%. Layanan pos dan giro melalui penerbangan mulai tercatat pada tahun 1976.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, fasilitas bandar udara terus dibenahi. Landasan yang sebelumnya hanya mampu melayani pesawat jenis Cassa 212 dan BN2A secara bertahap ditingkatkan kemampuannya untuk melayani pesawat yang lebih besar, antara lain ATR-42, ATR-72, Fokker 100, serta Boeing 737-200 dan Boeing 737-500, sesuai kondisi dan persyaratan operasional pada masanya.
Perkembangan Transportasi Udara dan Potensi Konektivitas (1990–2000)
Jumlah penumpang Bandar Udara H. Asan Sampit mencapai puncaknya pada tahun 1990, yaitu sebanyak 79.390 penumpang. Namun, setelah tersedianya konektivitas transportasi darat menuju Palangka Raya dan Pangkalan Bun pada tahun 1993, serta berkembangnya transportasi laut, jumlah penumpang angkutan udara mengalami penurunan. Kondisi tersebut semakin terasa setelah krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998.
Pada akhir dekade 1990-an, aktivitas perekonomian dan usaha di wilayah Sampit serta sekitarnya menunjukkan potensi yang besar bagi pengembangan transportasi. Sektor perkebunan, perdagangan, dan angkutan barang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang mendukung kebutuhan konektivitas wilayah.
Berdasarkan survei permintaan angkutan udara rute Pulau Jawa yang dilakukan terhadap 117 perusahaan dan pengusaha pada 11 September 1999, tercatat perkiraan permintaan calon penumpang sebagai berikut:
-
Sampit–Surabaya: 580 orang per bulan.
-
Sampit–Jakarta: 403 orang per bulan.
-
Total yang tercantum dalam dokumen survei: 1.099 orang per bulan.
Hasil survei tersebut menjadi salah satu gambaran potensi kebutuhan penerbangan langsung dari Sampit menuju kota-kota perdagangan di Pulau Jawa.
Pada periode berikutnya, layanan penerbangan langsung ke Surabaya menggunakan pesawat Fokker 27 turut meningkatkan minat masyarakat terhadap transportasi udara. Pengembangan Bandar Udara H. Asan Sampit pun diarahkan secara bertahap agar dapat melayani pesawat dengan kapasitas lebih besar.
Peningkatan Menjadi Bandar Udara Kelas II (2006–2008)
Peningkatan kebutuhan transportasi udara dan pengembangan fasilitas terus berlanjut hingga pertengahan dekade 2000-an.
Sejak tahun 2006, Bandar Udara H. Asan Sampit telah mampu melayani pesawat Fokker 27 atau sejenisnya. Pada akhir tahun 2007, kemampuan pelayanan berkembang hingga dapat melayani pesawat Boeing 737-200.
Pada periode tersebut, maskapai Merpati Nusantara Airlines melayani rute Surabaya–Sampit–Surabaya sebanyak empat kali seminggu dengan dukungan subsidi APBD. Sementara itu, Kartika Airlines melayani rute Jakarta–Sampit–Jakarta melalui penerbangan carter sebanyak tiga kali seminggu.
Pada awal tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur turut menanamkan modal sebesar Rp25 miliar di PT Merpati Nusantara Airlines dengan sistem bagi hasil. Pesawat Fokker 100 yang digunakan kemudian melayani rute Surabaya–Sampit–Jakarta pulang-pergi sebanyak empat kali seminggu. Selain itu, Kalstar melayani rute Banjarmasin–Sampit–Palangka Raya–Ketapang–Pontianak pulang-pergi setiap hari menggunakan pesawat ATR-42.
Tonggak penting lainnya terjadi pada 12 Februari 2008. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 6 Tahun 2008, status Bandar Udara H. Asan ditingkatkan menjadi Bandar Udara Kelas II.
Peningkatan status tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan organisasi dan pelayanan Bandar Udara H. Asan Sampit dalam mendukung kebutuhan transportasi udara masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur dan wilayah sekitarnya.
Pengembangan Fasilitas Bandar Udara
Seiring dengan peningkatan status dan kebutuhan operasional, fasilitas Bandar Udara H. Asan Sampit terus dikembangkan. Berdasarkan catatan sejarah yang tersedia, fasilitas yang dibangun atau ditingkatkan pada periode tersebut meliputi:
-
Gedung dan peralatan DVOR-DME yang dibangun pada tahun anggaran 2007–2008.
-
Precision Approach Path Indicator (PAPI) pada dua sisi landasan untuk membantu pemanduan pendaratan pesawat.
-
Fasilitas Airfield Lighting (AFL), meliputi lampu landasan pacu, taxiway, apron, dan threshold untuk mendukung operasional sesuai persyaratan yang berlaku.
-
Menara pengawas (tower set).
-
Kendaraan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK).
-
Gedung terminal penumpang.
-
Pelebaran apron untuk mendukung kebutuhan pelayanan pesawat udara.
Pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan fasilitas dan pelayanan bandar udara sesuai kebutuhan operasional pada masanya.
Kepala Kantor dari Masa ke Masa
Perjalanan Bandar Udara H. Asan Sampit juga tidak terlepas dari peran para pejabat yang memimpin dan mengelola bandar udara pada setiap periode. Kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari sejarah organisasi dalam menjalankan tugas pelayanan transportasi udara dan pengembangan fasilitas bandar udara.
Daftar Kepala Kantor Bandar Udara H. Asan Sampit dari masa ke masa akan disajikan berdasarkan data kepegawaian dan arsip resmi, termasuk nama pejabat serta periode jabatan masing-masing.
Bandar Udara H. Asan Sampit dan Perkembangan Selanjutnya
Sejarah Bandar Udara H. Asan Sampit mencerminkan perjalanan panjang yang dimulai dari penerbangan amfibi di Sungai Mentaya, pembangunan landasan melalui gotong royong, pengoperasian penerbangan perintis, hingga peningkatan status dan pengembangan fasilitas bandar udara.
Perjalanan tersebut menjadi landasan bagi pengembangan Bandar Udara H. Asan Sampit dalam mendukung konektivitas wilayah, mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi, serta pelayanan transportasi udara yang mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kualitas pelayanan.
Informasi mengenai perkembangan setelah periode yang tercatat dalam dokumen sejarah tahun 2015 perlu dilengkapi dengan data dan arsip terbaru agar halaman sejarah ini terus relevan dan menggambarkan perjalanan Bandar Udara H. Asan Sampit hingga saat ini.