Sejarah Singkat

Bandara Dewadaru, yang penamaannya mengadopsi peninggalan vegetasi endemik legendaris di Kepulauan Karimunjawa, diinisiasi dan mulai beroperasi pada tahun 1990 sebagai bagian dari proyek strategis pembukaan aksesibilitas wilayah kepulauan terluar di Provinsi Jawa Tengah. Pada fase awal operasionalnya, bandara ini dikategorikan sebagai lapangan terbang perintis dengan fasilitas infrastruktur yang sangat terbatas, mengandalkan landasan pacu (runway) tanah dan rumput sepanjang 900 meter yang kemudian ditingkatkan menjadi konstruksi aspal. Karakteristik geometris landasan pada era tersebut hanya dirancang untuk melayani pergerakan pesawat udara bertipe Light Aircraft atau pesawat perintis berkapasitas kecil seperti CASA 212, dengan fokus utama pada pemenuhan mobilitas dasar masyarakat lokal serta pemenuhan logistik wilayah penunjang.

Seiring dengan ditetapkannya Kepulauan Karimunjawa sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melakukan akselerasi pengembangan fasilitas secara komprehensif. Upaya modernisasi interkoneksi udara ini direalisasikan melalui proyek rekonstruksi dan perpanjangan landasan pacu secara bertahap hingga mencapai 1.200 meter guna mengakomodasi peningkatan klasifikasi instrumen penerbangan dan memperluas cakupan operasional armada udara. Langkah intervensi infrastruktur ini menjadi pemicu stimulasi pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata yang mulai terintegrasi secara nasional.

Memasuki fase tata kelola modern, Bandara Dewadaru mengalami revitalisasi berskala besar guna mengoptimalkan kapasitas layanan transportasi udara. Saat ini, fasilitas bandara telah diperluas secara signifikan dengan spesifikasi landasan pacu mencapai 1.400 meter x 30 meter, yang secara teknis memungkinkannya untuk melayani pengoperasian pesawat komersial bermesin turboprop yang lebih besar, seperti tipe ATR 72-600 secara kapasitas penuh (full capacity). Transformasi ini juga mencakup pembangunan gedung terminal penumpang domestik baru yang mengintegrasikan aspek arsitektur lokal dengan konsep modernitas fungsional demi menjamin standar keselamatan (safety), keamanan (security), serta kenyamanan (services) penerbangan yang memenuhi regulasi penerbangan sipil terkini.

Terakhir diperbarui: 06 Jun 2026