Tentang Bandara
Sejarah Singkat
Sejarah penerbangan di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, memiliki dua alur utama: perintis awal di Wilayah Babo yang berakar dari era kolonial dan Perang Dunia II, serta pengembangan Bandara Bintuni (Stenkool) yang kini menjadi bandara utama kabupaten.
Masa Kolonial & Eksplorasi Minyak (1930-an)
Cikal bakal transportasi udara di kawasan Teluk Bintuni berawal dari kehadiran perusahaan minyak Belanda, Nederlandsch Nieuw Guinee Petroleum Maatschappij (NNGPM). Pada dekade 1930-an, Belanda membangun lapangan terbang di Babo sebagai pangkalan logistik dan transportasi udara untuk mendukung operasional eksplorasi minyak bumi di sekitar wilayah Steenkool (Bintuni).
Pangkalan Militer Perang Dunia II (1941–1945)
Saat Perang Pasifik pecah, lapangan terbang di Babo memegang peranan strategis:
-
Penguasaan Jepang (1942): Pasukan Jepang menguasai Babo dan memperluas landasan udara tersebut untuk dijadikan pangkalan militer pertahanan udara dan logistik utama di wilayah Teluk Bintuni.
-
Serangan Sekutu: Bandara Babo menjadi sasaran pemboman intensif oleh pangkalan udara Sekutu dan Australia (RAAF) untuk memutus pertahanan udara Pasifik selatan Jepang. Puing-puing pesawat tempur peninggalan perang (seperti jenis Mitsubishi Zero) sempat lama berada di sekitar kawasan tersebut.
Era Pasca-Kemerdekaan & Kota Minyak Steenkool
Memasuki pertengahan abad ke-20, kawasan pemukiman Bintuni berkembang dari daerah tambang bernama Steenkool (bahasa Belanda untuk "batu bara"). Seiring berkembangnya pemukiman dan pusat pemerintahan lokal, dibangunlah lapangan terbang di wilayah Bintuni darat yang dikenal sebagai Bandara Steenkool (kemudian berganti nama menjadi Bandar Udara Bintuni). Landasan ini awalnya hanya berfungsi melayani pesawat-pesawat kecil/pionir (seperti jenis Cessna atau Twin Otter) untuk menghubungkan Bintuni yang terisolasi dengan wilayah Manokwari dan Sorong.
Pemusatan Pembaruan & Pembangunan Kabupaten (2003–Sekarang)
-
Pemekaran Daerah (2003): Ketika Kabupaten Teluk Bintuni resmi dimekarkan dari Kabupaten Manokwari pada tahun 2003, keberadaan penerbangan sipil menjadi prioritas utama untuk mobilitas pemerintah dan masyarakat.
-
Modernisasi: Kementerian Perhubungan beserta Pemerintah Daerah memperpanjang dan memperkeras landasan pacu Bandara Bintuni (IATA: NTI), serta melengkapinya dengan terminal penumpang umum dan terminal VIP.
-
Proyek Vital LNG Tangguh: Pertumbuhan industri gas alam (LNG Tangguh) di Teluk Bintuni mendorong peningkatan frekuensi penerbangan logistik dan komersial, baik di Bandara Bintuni maupun Bandara Babo yang direnovasi kembali untuk mendukung operasional industri.
Saat ini, Bandar Udara Bintuni beroperasi sebagai bandara kelas III domestik yang melayani penerbangan komersial perintis dan penghubung utama aktivitas ekonomi serta pemerintahan di Provinsi Papua Barat.
* * *
Secara garis besar, alur sejarah tersebut disusun berdasarkan perpaduan arsip sejarah penerbangan dan eksplorasi wilayah di Papua Barat.
Sumber Rekapitulasi Sejarah:
-
Arsip NNGPM & Peta Eksplorasi Minyak Belanda (1930-an): Catatan mengenai pendirian Nederlandsch Nieuw Guinee Petroleum Maatschappij (NNGPM) yang menjadikan kawasan Babo dan Steenkool (Bintuni) sebagai pusat operasional awal logistik penerbangan udara.
-
Catatan Sejarah Perang Dunia II (Pasifik): Laporan sejarah militer Sekutu dan Jepang mengenai pemboman pangkalan udara Babo oleh Sekutu (termasuk RAAF Australia) serta sisa-sisa reruntuhan tempur di Teluk Bintuni.
-
Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Kemenhub RI) & Arsip Daerah: Informasi teknis mengenai status Bandar Udara Bintuni (IATA: NTI) yang dahulunya dikenal sebagai Bandara Steenkool, statusnya sebagai bandara Kelas III, serta pengembangan fasilitas terminal umum dan VIP.
-
Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Teluk Bintuni (UU No. 26 Tahun 2002/2003): Landasan hukum pemekaran daerah yang menjadi tonggak modernisasi dan perpanjangan infrastruktur penerbangan Bintuni.