Tentang Bandara
Terakhir diperbarui: 19 Apr 2026
Sejarah Singkat
BANDARA AYAWASI: DARI RINTISAN MISSIONARIS HINGGA UPBU KELAS III
Sejarah bandara ini memang tidak terdokumentasi dengan baik, namun catatan dan ingatan masyarakat menunjukkan bahwa Bandara Ayawasi sudah beroperasi sejak tahun 1950-an. Pada masa itu, keberadaan bandara sangat erat kaitannya dengan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang dilakukan oleh para misionaris Gereja Katolik di kawasan Aifat Utara.

Pada tahun 1955 Pater Engelbertus van Baarsen OSA mendirikan lagi stasi baru, yang sekarang bernama Ayawasi. Di tempat ini juga pernah dikunjungi oleh Provinsial OSA, Pater Dr. D.A. van der Weijden dan Pater van Diepen, yaitu pada tahun 1957 bulan Maret.
Keadaan yang serba sulit karena soal pengangkutan personelia dan barang. Dalam bulan Mei 1957 Ayawasi diizinkan oleh pihak penerbangan sipil untuk membuka lapangan terbang. Maka baru pada tahun 1958 lapangan terbang tersebut dibangun, yang dipimpin oleh Pater M.v.d. Kraan, OSA. Pada tahun itu, para misionaris mulai sedikit terbantu dengan beroperasinya Associated Mission Aviation (AMA), sebagai perusahaan penerbangan Katolik yang melayani karya pastoral di Papua. Dengan bantuan transportasi ini, pintu masuk ke wilayah-wilayah pedalaman semakin terbuka.
Tenaga-tenaga bantuan, yakni guru-guru pun semakin lancar. Dengan perkembangan itu maka mulai dibuka SD-SD di tempat-tempat baru. Barang-barang personelia keperluan pendidikan pun bisa didatangkan ke daerah pedalaman. Selain itu pemerintahpun mulai bisa datang dan melihat situasi masyarakat pedalaman sehingga dapat mengatur strategi pembangunan yang terarah. Perayaan Natal pertama di daerah itu dirayakan pada tahun 1958. Banyak guru-guru dan murid-murid, serta umat bersama-sama merayakan Natal tersebut bersama dengan Pater H. van Beurden OSA. Situasi yang sama pula terjadi di Teminabuan bersama Pater H. van der Grinten OSA.
Suatu peristiwa bersejarah terjadi pada tanggal 11 Agustus 1959 di Ayawasi, yaitu untuk pertama kalinya pesawat Cessna yang dikemudikan oleh Pater H. Vergouwen OFM dan Pater Fr. Verheijen, OFM mendarat di sana.

Seiring berjalannya waktu, pengelolaan Bandara Ayawasi mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Pada tahun 1986, pengelolaan resmi dialihkan ke Kementerian Perhubungan, dengan status saat itu sebagai Lapangan Terbang Ayawasi. Sejak saat itu, Bandara Ayawasi masuk dalam jaringan bandar udara perintis yang menjadi tanggung jawab negara untuk mendukung konektivitas di wilayah terpencil.
Kemudian, pada tahun 2011, status Bandara Ayawasi ditingkatkan menjadi Bandar Udara Kelas IV Ayawasi. Dua tahun berselang, yakni pada tahun 2013, statusnya kembali naik menjadi Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Ayawasi, sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 118 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja UPBU. Dengan status tersebut, UPBU Ayawasi memiliki tugas melaksanakan pelayanan jasa kebandarudaraan, jasa terkait, serta menjamin keamanan, keselamatan, dan ketertiban penerbangan pada bandar udara yang belum diusahakan secara komersial.
Dari sisi fisik, Bandara Ayawasi tergolong sebagai bandara kecil. Landasan pacu yang dimilikinya hanya berukuran 830 meter x 23 meter, sehingga hanya bisa melayani pesawat perintis berbadan kecil, seperti Twin Otter. Rute penerbangan yang dilayani pun terbatas pada penerbangan domestik jarak dekat, terutama dari dan ke Sorong serta Manokwari, yang menjadi pintu utama akses menuju wilayah Maybrat. Meskipun kecil, bandara ini memiliki peranan vital karena menjadi satu-satunya akses transportasi udara yang bisa menjangkau wilayah pedalaman Maybrat dengan cepat.

Sepanjang sejarahnya, Bandara Ayawasi juga menyaksikan sejumlah peristiwa penting. Salah satunya adalah pada 28 Juni 2023, ketika Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, mendarat di Bandara Ayawasi untuk meresmikan dan memberkati Gedung Gereja Katolik St. Yosep. Kehadiran tokoh penting dari Vatikan ini menjadi momen bersejarah sekaligus simbol kebanggaan dan semangat baru bagi masyarakat Maybrat dan Gereja Katolik.

Hingga saat ini, Bandara Ayawasi tetap menjadi kebanggaan masyarakat setempat sekaligus menjadi salah satu dari dua bandar udara yang ada di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Kehadirannya bukan hanya mempermudah akses transportasi, tetapi juga memberi dampak positif bagi perekonomian lokal, mempercepat distribusi barang, mendukung pelayanan kesehatan, pendidikan, serta memperkuat keterhubungan masyarakat dengan dunia luar.
Dengan sejarah panjang sejak era misionaris hingga kini berstatus sebagai UPBU Kelas III, Bandara Ayawasi terus berperan sebagai pintu gerbang pembangunan dan wajah kebanggaan masyarakat Maybrat.

Terakhir diperbarui: 19 Apr 2026