1. Pembangunan pada masa pendudukan Jepang (1942–1945) Bandara Utarom mulai dibangun pada tahun 1942 oleh Tentara Kekaisaran Jepang ketika menduduki wilayah Papua. Lokasinya dipilih karena sangat strategis untuk mendukung operasi militer Jepang menuju Papua Nugini, Australia, dan Pasifik Selatan. Pembangunan dilakukan dengan melibatkan romusha dari Pulau Jawa serta masyarakat lokal Kaimana. Para pekerja mengalami kondisi kerja yang sangat berat, mulai dari pembukaan hutan, penimbunan rawa, hingga pembangunan landasan secara manual di bawah pengawasan militer Jepang.
2. Dibombardir Sekutu (1945) Menjelang akhir Perang Dunia II, kekuatan Jepang mulai melemah. Pada tahun 1945, lapangan terbang Utarom menjadi sasaran pemboman oleh pasukan Sekutu sehingga mengalami kerusakan cukup parah.
3. Dikuasai kembali oleh Belanda (1946–1963) Setelah Jepang menyerah, Belanda kembali ke Kaimana pada 1946 dan memperbaiki bandara yang rusak. Pada tahun 1950, Belanda melakukan pembangunan besar-besaran dan menjadikan Utarom sebagai Pangkalan Udara Militer KNIL sekaligus bagian dari sistem pertahanan di Papua Barat.
Ketika Presiden Soekarno melancarkan Operasi Trikora pada tahun 1961 untuk mengembalikan Irian Barat ke Indonesia, Bandara Utarom menjadi salah satu pangkalan utama Belanda. Pesawat-pesawat tempur ditempatkan di bandara ini, sementara pelabuhan Kaimana dipenuhi kapal perang Belanda sebagai bentuk pertahanan.
4. Menjadi milik Indonesia (1963) Pada tahun 1963, setelah penyerahan Irian Barat kepada Indonesia, Bandara Utarom beralih menjadi aset Pemerintah Indonesia. Sejak saat itu, fungsi bandara berubah dari pangkalan militer menjadi bandara sipil yang melayani kebutuhan transportasi masyarakat Kaimana dan wilayah sekitarnya.
5. Perkembangan sebagai bandara perintis (1964–1990) Pada periode 1964–1970, Bandara Utarom merupakan bandara utama di wilayah Fakfak (sebelum Kabupaten Kaimana berdiri) dan mampu melayani pesawat seperti C-130 Hercules, Pilatus Porter, dan DHC-6 Twin Otter. Selanjutnya, pada 1971–1990, pemerintah menetapkannya sebagai bandara perintis untuk membuka keterisolasian wilayah Papua bagian barat.
6. Pengembangan bersama Pertamina dan Mobil Oil (1991–sekarang) Mulai tahun 1991, Pertamina dan Mobil Oil menjadikan Bandara Utarom sebagai basis operasi industri migas. Bersama pemerintah, kedua perusahaan turut mendukung pengembangan fasilitas bandara sehingga mampu melayani pesawat yang lebih besar, seperti Fokker F-28. Seiring waktu, landasan, apron, dan terminal terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan transportasi udara di Kaimana.
Peninggalan sejarah
Salah satu bukti sejarah yang masih dapat ditemukan di kawasan Bandara Utarom adalah lima hanggar peninggalan Perang Dunia II. Hanggar-hanggar tersebut dibangun pada masa Jepang dan sebagian dimanfaatkan kembali pada masa Belanda. Kini hanggar tersebut menjadi cagar sejarah yang menjadi saksi perkembangan bandara dari masa perang hingga era modern.
Kondisi saat ini
Saat ini Bandara Utarom berkode IATA: KNG dan ICAO: WASK, berstatus bandara domestik yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Bandara ini merupakan pintu gerbang utama menuju Kabupaten Kaimana dan melayani penerbangan ke beberapa kota di Papua, seperti Sorong, Manokwari, dan Timika.