Sejarah Singkat

Sejarah Bandar Udara Tampa Padang Mamuju

 
Bandar Udara Tampa Padang Mamuju pada awalnya berdiri pada tahun 1978. Pada masa tersebut statusnya masih Lapangan terbang perintis (Lapter) dengan seorang Kelapter (Kepala lapangan terbang perintis) sebagai pimpinan. Lapter Mamuju -yang nantinya- menjadi Bandar Udara Tampa Padang Mamuju berada di kecamatan Kalukku desa Tampa Padang dengan jarak tempuh sekitar 31 Km dari ibukota kabupaten Mamuju propinsi Sulawesi Barat (dulu masih berada di propinsi Sulawesi Selatan) menuju kearah utara. Pada dekade awal (Tahun 60 – 70an) masyarakat kabupaten Mamuju dan sekitarnya dapat dikatakan terisolasi akibat minimnya infrastruktur yang ada. Bentang alam yang terdiri dari pegunungan-pegunungan menjadikan daerah ini semakin sulit untuk dijangkau. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat mobilitas masyarakat pada masa-masa tersebut sangat rendah. Satu-satunya sarana transportasi yang cukup lumayan adalah melalui laut. Namun sayangnya, sarana transportasi lautpun sangat sulit diakses oleh masyarakat yang berada di daerah sebelah utara kota Mamuju dimana pada saat itu sarana transportasi darat dalam kotapun sangat minim dan memprihatinkan. Kehadiran Lapter Mamuju yang strategis (dapat diakses masyarakat Mamuju dan sekitarnya) diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan transportasi dan mempertinggi tingkat mobilitas warga masyarakat dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Pengoperasian Awal Bandara Tampa Padang Mamuju
Bandar Udara Tampa Padang (Yang pada saat itu masih berstatus Lapter) diresmikan oleh Marsekal Kardono selaku Direktur Jenderal Perhubungan Udara atas nama Menteri Perhubungan yang pada saat itu dijabat oleh Emil Salim. Pengoperasian awal Bandara ditandai dengan mendaratnya pesawat berjenis Twin Other (DHC-6) berkapasitas 18 orang penumpang milik PT.Merpati Nusantara AirLines. Penerbangan ini bertahan hingga beberapa tahun lamanya. Apalagi pada saat itu industri kayu di Mamuju begitu maraknya. Pengusaha-pengusaha kayu inilah yang paling banyak menggunakan jasa penerbangan pada saat itu. Selain masyarakat yang memang membutuhkan sarana transportasi udara sebagai salah satu alternatif. Penerbangan ini aktif dengan jadual penerbangan tiap hari dan bertahan hingga sekitar tahun 1982. Tetapi penerbangan-penerbangan unreguler / tak berjadual tetap ada untuk kepentingan kunjungan tamu-tamu daerah dan pejabat serta kalangan swasta.
Penerbangan rutin aktif kembali (baca : berjadual) pada dekade tahun 1987-an dimasa kepemimpinan Djumadiono. Pada masa-masa ini fasilitas Lapter/Bandara masih sangat sederhana. Bahkan terminal penumpang dan barang belum ada. Termasuk fasilitas untuk PKP-PK, dan sebagainya. Bangunan yang ada pada waktu itu hanyalah 1 (Satu) buah yaitu gedung kantor yang sekaligus menjadi pusat kegiatan administrasi dan pelayanan terhadap penumpang. 
Pengaspalan Runway baru dilakukan pada tahun 2003. Sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan transportasi udara dan peningkatan pelayanan maka pada tahun 1990 dibangunlah fasilitas-fasilitas penting seperti terminal penumpang, Gedung PKP-PK serta beberapa fasilitas lainnya yang beroperasi pada tahun itu juga.
Peningkatan aktifitas penerbangan ini tentunya berkaitan erat dengan semakin lengkapnya fasilitas dan juga kebutuhan masyarakat itu sendiri akan transportasi udara yang cepat dan aman. Peningkatan fasilitas tersebut antara lain yakni pada tahun 1979 landasan (R/W) masih berupa rumput dengan panjang landasan 710 meter, perkerasan dilakukan pada saat panjang runway Kemudian ditambah kembali setelah dilakukan pengaspalan selanjutnya ditambah panjang menjadi 1260 meter dengan lebar 23 meter. Pada tahun 2007 hingga 2009 diperpanjang lagi sepanjang 1500 meter dengan lebar 30 meter. Taxyway sepanjang 75 meter dengan lebar 18 meter dan apron sepanjang 180 meter dengan lebar 40 meter. 
Saat ini bandara Tampa Padang telah memilik landas pacu dengan volume panjang total 2500 M dan lebar 45 M. Kekuatan landasan tiap tahun selalu ditingkatkan guna melayani penerbangan-penerbangan dengan pesawat berbadan dan berbobot besar. saat ini pesawat terbesar yang beroperasi dibandara Tampa Padang adalah Airbus A-320 Series yang dioperasikan oleh Batik Air Indonesia.
Terakhir diperbarui: 23 Jul 2026