Tentang Bandara
Terakhir diperbarui: 06 Agt 2026
Sejarah Singkat
Bandar Udara Moanamani merupakan pintu gerbang udara domestik Kelas III yang berlokasi strategis di Kampung Ikebo, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Berada pada ketinggian sekitar 1.586 meter di atas permukaan laut, infrastruktur penerbangan ini memiliki sejarah panjang yang melekat erat dengan misi membuka isolasi geografis di wilayah pegunungan tengah Papua. Bandara ini awalnya dirintis dan dibangun sebagai lapangan terbang darurat untuk mengakomodasi penerbangan perintis skala kecil, mengingat akses jalur darat yang sangat terbatas dan medan pegunungan Papua yang menantang.
Seiring berjalannya waktu, pengelolaan bandara ini secara resmi dialihkan ke bawah naungan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dengan pengawasan langsung dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke. Peningkatan fasilitas terus dilakukan secara bertahap oleh pemerintah untuk menjamin keselamatan operasional penerbangan. Saat ini, Bandara Moanamani beroperasi dengan kode IATA ONI dan kode ICAO WABD. Fasilitas utamanya meliputi landasan pacu sepanjang 960 meter dengan lebar 18 meter yang dibangun menggunakan material konstruksi aspal kolakan berkekuatan PCN 5 F/C/Z/U. Landasan ini didesain khusus pada arah 03-21 untuk melayani pesawat-pesawat berbadan kecil jenis Twin Otter, Caravan, atau pesawat perintis sejenisnya yang menjadi andalan mobilisasi masyarakat setempat.
Dalam garis waktu perkembangannya, fungsi Bandara Moanamani telah berevolusi bukan sekadar menjadi tempat pendaratan pesawat udara biasa. Kehadirannya kini memegang peran vital dalam struktur sosial-ekonomi masyarakat Kabupaten Dogiyai, terutama dalam memfasilitasi distribusi logistik, bahan kebutuhan pokok, dan pelayanan medis darurat. Sebagai bandara dengan klasifikasi 2B dan hierarki P, setiap rute penerbangan domestik yang singgah di bandara ini berfungsi menjaga kesinambungan pasokan barang dari kota-kota besar di sekitarnya, sekaligus menjadi urat nadi konektivitas yang menghubungkan wilayah terpencil Papua Tengah dengan jaringan transportasi nasional.
Terakhir diperbarui: 06 Agt 2026