Gerbang Udara Kebanggaan Sulawesi TenggaraDi tengah geliat pertumbuhan wilayah timur Indonesia, Bandar Udara Haluoleo hadir sebagai salah satu simpul transportasi udara yang memiliki arti penting bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Bukan sekadar tempat lepas landas dan mendaratnya pesawat, bandara ini merupakan gerbang utama yang menghubungkan Kota Kendari dan berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara dengan pusat-pusat pertumbuhan nasional.
Perjalanan panjang Bandar Udara Haluoleo bahkan bermula pada era Hindia – Belanda yang pada saat itu hanya berupa lapangan udara dan dibangun dengan tujuan sebagai pangkalan militer strategis oleh pemerintah colonial belanda sebelum perang dunia II. Pesawat pertama tercatat mendarat pada 07 oktober tahun 1938 menggunakan pesawat militer ML-KNIL (Militaire Luchtvaarert het Koninklijk Nederlands – Indisch leger). Pada masa itu, Lapangan udara Kendari dinggap sebagai salah satu pangkalan udara terbaik di Kawasan Hindia Belanda bahkan Asia Tenggara karena lokasi yang sangat strategis yakni di jalur pertahanan timur Nusantara dan dekat dengan Laut Banda dan hingga Ketika perang pasifik (1941 – 1942) Lapangan udara Kendari masih menjadi sasaran penting militer Jepang dan dikenal sebagai “Kendari Airfield II”.
Setelah Pengakuan kemerdekaan Indonesia tahun 1949 , lapangan udsara ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan dikelola oleh TNI Angkatan Udara. Pada 1950-an pangkalan Udara Kendari digunakan sebagai basis operasi militer pemerintahan Indonesia untuk menghadapi berbagai pemberontakan di Kawasan timur Indonesia termasuk RMS dan DI/TII lalu kemudian pada tahun 1963 status pangkalan udara ditingkatkan menjadi pangkalan Udara Penuh TNI AU bernama Lanud Wolter Monginsidi.
Seiring berkembangnya aspirasi masyarakat Sulawesi Tenggara untuk menghadirkan identitas lokal yang lebih kuat pada fasilitas publik strategis, pada tanggal 13 Februari 2010 nama bandar udara ini resmi berubah menjadi Bandar Udara Haluoleo. Nama tersebut diambil dari tokoh besar Kerajaan Konawe, Raja Halu Oleo, seorang pemimpin yang dikenal bijaksana dan memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Tenggara yang hingga saat ini masih digunakan sebagai identitas Bandara dan dikelolah oleh Badan Layanan Umum Unut penyelenggara Bandar Udara dibawah Kementrian Perhubungan - Direktorat Jendral Perhubungan Udara. Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian identitas, melainkan simbol kebanggaan daerah dan semangat baru dalam membangun pelayanan transportasi udara yang lebih modern, profesional, dan berdaya saing. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Bandar Udara Haluoleo sebagai wajah kemajuan daerah di mata nasional.