Tentang Bandara
Sejarah Singkat
Bandar Udara Dobo (IATA: DOB, ICAO: WAPD), memiliki peran historis dan strategis yang sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Sebagai bandara paling timur di wilayah Provinsi Maluku, posisinya secara geografis justru lebih dekat ke daratan Papua dibandingkan ke ibu kota provinsi di Ambon.
Berikut adalah rekam jejak sejarah dan perkembangan Bandar Udara Dobo:
1. Era Pembangunan dan Status Bandara Pengumpan
Setelah Kepulauan Aru resmi dimekarkan menjadi kabupaten sendiri yang terpisah dari Maluku Tenggara pada tahun 2003, kebutuhan akan konektivitas udara yang stabil menjadi prioritas utama.
-
Pada awalnya, Bandara Rar Gwamar beroperasi dengan fasilitas yang sangat terbatas, memiliki landasan pacu (runway) awal sepanjang 800 x 23 meter yang hanya bisa didarati oleh pesawat-pesawat perintis berukuran kecil seperti Twin Otter atau Cassa.
-
Melalui Keputusan Menteri Perhubungan, bandara ini ditetapkan sebagai Bandara Pengumpan (Spoke). Peran utamanya adalah sebagai jembatan udara untuk memutus isolasi geografis wilayah kepulauan, mengangkut komoditas unggulan seperti mutiara dan hasil perikanan, serta melayani mobilitas masyarakat menuju kota-kota transit terdekat seperti Tual (Langgur) dan Ambon.
2. Modernisasi dan Perluasan Landasan Pacu
Mengingat cuaca ekstrem di Laut Arafura yang sering mengganggu jalur transportasi laut (kapal laut sering tertahan gelombang tinggi), pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melakukan peningkatan fasilitas secara bertahap:
-
Landasan pacu diperpanjang dari 800 meter hingga mencapai 1.400 meter x 30 meter.
-
Peningkatan ini mengubah status kategori bandara sehingga mampu melayani pesawat yang lebih besar, seperti tipe ATR 72 yang dioperasikan oleh maskapai komersial (seperti Wings Air) untuk rute reguler Dobo–Ambon, serta penerbangan perintis (seperti Susi Air) yang menghubungkan Dobo dengan wilayah Papua, seperti Fakfak.
3. Era Baru: Pengoperasian Terminal Penumpang Modern (Mei 2025)
Babak baru sejarah Bandara Rar Gwamar ditandai dengan proyek modernisasi besar-besaran pada fasilitas daratnya. Menghadapi keterbatasan gedung terminal lama yang hanya seluas sekitar 252 m², pemerintah membangun gedung terminal penumpang baru yang jauh lebih representatif, modern, dan luas.
Setelah rampung secara fisik, terminal baru Bandara Dobo resmi mulai beroperasi pada tanggal 15 Mei 2025. Pengoperasian perdana terminal baru ini ditandai dengan momen pelepasan Calon Jemaah Haji (CJH) Kabupaten Kepulauan Aru. Dengan beroperasinya terminal baru ini, wajah penerbangan di Kepulauan Aru kini telah berubah menjadi lebih modern, siap mendukung peningkatan frekuensi penerbangan, serta menjadi gerbang investasi dan pariwisata yang kokoh di Bumi Jargaria.