Bandar Udara Haji Muhammad Sidik
Jarak Pandang Akibat Kabut Asap Karhutla Selimuti Kalimantan Tengah, Penerbangan di Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh Kembali Dibatalkan
MUARA TEWEH, KALIMANTAN TENGAH — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, pekatnya kabut asap menyebabkan jarak pandang di kawasan Bandara Haji Muhammad Sidik berada di bawah batas aman penerbangan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik kembali dibatalkan. Pada Sabtu (22/8/2026), pembatalan penerbangan telah memasuki hari keempat secara berturut-turut akibat jarak pandang yang belum memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Terdapat dua jadwal penerbangan Wings Air yang terdampak pada hari ini. Salah satunya merupakan penerbangan dari Banjarmasin menuju Muara Teweh, sedangkan penerbangan lainnya dijadwalkan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, menuju Muara Teweh.
Pembatalan dilakukan karena jarak pandang di sekitar bandara masih terlalu rendah. Berdasarkan pengamatan pada Jumat, jarak pandang berkisar antara 1,5 kilometer hingga 4 kilometer, sementara kondisi minimum yang dibutuhkan untuk operasional penerbangan di bandara visual tersebut sekitar 5 kilometer atau lebih.
Kondisi serupa terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis (20/8/2026), jarak pandang di Bandara Haji Muhammad Sidik sempat hanya sekitar 1 kilometer pada pagi hingga siang hari. Akibatnya, penerbangan Wings Air rute Banjarmasin–Muara Teweh dan sebaliknya kembali dibatalkan karena dinilai tidak aman untuk dilaksanakan.
Gangguan penerbangan ini juga berdampak kepada para calon penumpang. Sebagian penumpang memilih membatalkan perjalanan melalui udara dan melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat. Perjalanan melalui jalur darat dari Muara Teweh menuju sejumlah kota tujuan membutuhkan waktu sekitar 9 hingga 13 jam.
Sementara itu, BMKG Barito Utara menyatakan jarak pandang mendatar di sekitar Stasiun Meteorologi Haji Muhammad Sidik pada Jumat bervariasi antara 1,5 kilometer hingga 4 kilometer. BMKG juga mendeteksi adanya titik panas di wilayah Barito Utara. Namun, keberadaan hotspot tidak serta-merta membuktikan bahwa asap yang menyelimuti Muara Teweh berasal dari wilayah tersebut karena asap dapat berasal dari daerah lain dan terbawa pergerakan angin.
Secara lebih luas, kabut asap menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan akibat meningkatnya aktivitas karhutla. Data yang dikutip dari pemantauan hotspot menunjukkan terdapat 2.884 titik panas di Kalimantan Tengah pada 21 Agustus 2026 pukul 00.00–18.00 WIB. Kondisi ini turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya dampak asap terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan bahwa jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan. Apabila visibility berada di bawah batas operasional yang dipersyaratkan, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, maupun dibatalkan.
Bandara Haji Muhammad Sidik sendiri tetap memiliki jadwal penerbangan setiap hari, termasuk rute Muara Teweh–Banjarmasin serta penerbangan perintis menuju Palangka Raya. Namun, pelaksanaan penerbangan sangat bergantung pada kondisi jarak pandang dan faktor keselamatan penerbangan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap dampak kabut asap, sementara pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari pihak maskapai dan pengelola bandara sebelum melakukan perjalanan. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama di tengah kondisi jarak pandang yang masih belum stabil.